Bayangkan membuka Telegram, lalu bisa langsung staking, swap, atau pinjam-meminjam aset kripto tanpa harus keluar aplikasi, tanpa ganti tab. Sekarang, itu bukan lagi angan-angan. TAC, sebuah blockchain baru yang diam-diam membangun jembatan antara Ethereum dan Telegram, baru saja mengaktifkan mainnet publiknya, menjanjikan integrasi DeFi yang mulus bagi lebih dari 1 miliar pengguna Telegram.
Dan ya, ini bukan hanya soal tampilan antarmuka. Ini tentang akses nyata ke protokol-protokol besar seperti Curve, Morpho, Euler, Bancor, IPOR Fusion, dan lainnya langsung dari dalam chat Telegram Anda. Tidak lagi sekadar obrolan; sekarang Telegram bisa menjadi antarmuka DeFi Anda.
Apa sebenarnya TAC Mainnet?
Secara teknis, ini adalah blockchain Layer-1 yang dibangun untuk menghubungkan aplikasi DeFi Ethereum dengan Telegram. Tapi penjelasan sederhananya adalah TAC membuat aplikasi Ethereum bisa “berjalan” langsung di dalam Telegram. Dan bukan hanya untuk pengguna kripto berpengalaman ini juga dibangun untuk pengguna biasa, mereka yang mungkin belum punya dompet MetaMask atau belum tahu apa itu gas fee.
Banyak proyek Web3 berjuang keras untuk mendapatkan adopsi karena UI/UX yang rumit. TAC mencoba menyelesaikan itu dengan satu cara: memasukkan DeFi ke dalam Telegram, platform yang orang-orang sudah pakai setiap hari.
Hasilnya? Sebuah pengalaman DeFi yang terasa seperti mengirim stiker atau voice note. Ringan, cepat, dan (semoga) tidak menakutkan bagi pemula.
TVL Meledak: Lebih dari $800 Juta Dikunci Lewat “Pemanggilan TAC”
Sebagai bagian dari peluncurannya, TAC bersama Turtle Club meluncurkan kampanye bertajuk Call of TAC. Kampanye ini, menurut perusahaan, berhasil menarik Total Value Locked (TVL) lebih dari $800 juta.
Itu angka besar. Dan bukan hanya simbolik. Dalam dunia DeFi, likuiditas awal adalah segalanya. Banyak proyek baru tenggelam karena tidak cukup daya tarik likuid untuk mempertahankan pengguna awal. TAC tampaknya belajar dari itu. Mereka membangun fondasi keuangan yang kuat sebelum membiarkan publik masuk.
Dan mungkin, itu sebabnya peluncuran mainnet-nya tidak seperti kebanyakan. TAC memulai dengan Developer Mainnet di Juni 2025, agar para pengembang bisa menyebarkan dan menguji aplikasi terlebih dahulu. Baru setelah sistem stabil, mereka membuka Public Mainnet yang sekarang aktif. Pendekatan yang cukup dewasa dan… ya, tidak biasa untuk ekosistem blockchain yang sering terburu-buru mengejar hype.
DeFi di Telegram? Sekarang Bisa. Dan Lebih dari Sekadar Bisa.
Kita sudah lihat protokol-protokol besar ikut terintegrasi. Tapi TAC juga membuka jalan untuk pengembang EVM lain yang ingin mengakses pasar Telegram yang raksasa ini. Lewat integrasi dengan Babylon, TAC memperkenalkan staking berbasis Bitcoin.
Ya, benar. Di saat sebagian besar proyek berlomba-lomba membuat Layer-2 Ethereum baru, TAC justru menjembatani Ethereum dengan BTC staking sebuah kombinasi yang sangat jarang.
Dan itu belum semuanya. Ada juga dukungan dari nama-nama besar seperti LayerZero (untuk komunikasi antar chain), RedStone (oracle data), Blockscout (block explorer), Dune (analitik), dan Thirdweb (tools developer). Ini bukan proyek kecil. Ini ekosistem yang sudah disiapkan untuk tumbuh.
Dompet Telegram, Dari Chat Jadi DEX?
Menariknya, TAC bukan satu-satunya yang sibuk membangun di Telegram. Dompet resmi Telegram juga meluncurkan fitur perdagangan multi-aset tahun ini. TON, BTC, dan USDT sudah bisa ditransaksikan langsung lewat Telegram.
Sekarang, dengan TAC masuk dan membuka pintu untuk aplikasi Ethereum, kita sedang menyaksikan Telegram berubah dari aplikasi perpesanan jadi platform keuangan yang tak kalah dari exchange besar.